Kisah ini dimulai dengan seorang protagonis yang kesadarannya akan waktu terhenti karena kesedihan kehilangan putranya, yang kini ditinggalkan oleh istrinya, dan tinggal bersama secara tiba-tiba dengan keponakannya yang berusia 17 tahun yang ditinggalkan oleh saudara perempuannya. Seorang pria yang telah kehilangan cinta, seorang wanita yang telah menolak cinta, dan seorang gadis yang tidak tahu apa-apa tentang cinta… Saat mereka menghadapi penderitaan masing-masing, perjalanan mereka menemukan secercah harapan di hati yang kering seperti pasir musim panas digambarkan—sebuah mahakarya yang menyentuh namun lembut di mana kesedihan dan kehangatan saling berjalin.


